Sang Jurnalis Sesungguhnya

“Kejujuran Jatungnya Amanah”
“Pilihlah kejujuran, sekalipun
kalian menyaksikan di situ ada kecelakaan. Karena sesungguhnya di dalam
kejujuran itu ada keselamatan” (HR. Ibnu Dunya).
|
T
|
erik siang ramah menyentuh
kulitku. Debu-debu jalanan terbang di antara lalu lalang kendaraan. Angin
bergerak tak berarah. Kebisingan jalan membuat kepalaku sedikit pusing. Aku
berjalan di bawah sinar sang surya dengan langkah pelan seusai berkumpul dengan
teman-teman organisasi eksternal kampus. Bibir mulai bergetar, seperti sedang
berbicara dengan bayanganku.
Letak
kampusku memang tidak begitu jauh dari kosku sehingga aku bisa berjalan kaki.
Langkahku terhenti ketika sebuah mobil dinas berhenti di depan kosku. Aku
terdiam dan melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Seorang bapak berkumis
tipis dengan rambut lebat serta rapi, mengenakan pakaian dinas berdasi,
memandang ke arahku sambil tersenyum. Aku pun melangkah menghampirinya. Dia
adalah seorang kepala instansi di salah satu kantor yang ada di kota Mataram.
Pada saat itu dia tidak tahu jalan menuju ke salah satu fakultas yang ada di
kampusku dan aku pun menunjukkan arah menuju tempat tersebut.
Malam
semakin sunyi, ku coba untuk membaringkan tubuh melepas lelah sambil menatap
langit-langit kos dan tak lupa aku memadamkan benda temuan Thomas Alva Edison
yang ada di kamarku. Gelap. Setelah itu, aku kembali berbaring sambil membaca
doa. Tak lama kemudian, ku pejamkan mata untuk bermimpi indah. Aku pun tenggelam
sepenuhnya dari kesadaran, menanti fajar menyingsing membawa kehidupan yang
lebih baik
*
* *
Gema
adzan subuh mulai berkumandang, aku pun bangun dan bersiap-siap untuk
menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Setelah menunaikan kewajiban, aku pun
mulai membuat makanan untuk sarapan pagi agar tetap kuat dan konsen dalam
segala aktivitas. Karena warna langit hari ini tampak cerah, aku menyempatkan
diri untuk pergi ke kampus. Tanpa sengaja dalam perjalan menuju kampus, aku
bertemu dengan pimpinan umum LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) karena kebetulan aku
ikut dalam organisasi LPM tersebut. Kami sempat mengobrol mengenai kabar namun,
dalam obrolan singkat tersebut dia menyinggung mengenai pers di kampus oleh
karenanya dia menugaskan aku untuk mencari suatu masalah yang ada di kampus
untuk dijadikan sebuah berita. Pada hari itu pun aku langsung pergi menemui
salah satu narasumber yang ada di salah satu fakultas karena kemarin sempat aku
tahu bahwa ada kejadian menyimpang oleh salah satu dosen yang di fakultas tersebut.
“selamat
pagi, pak. Sebelumnya saya adalah lembaga pers kampus pada kesempatan ini saya
ingin mewawancarai bapak mengenai kejadian menyimpang yang di lakukan salah
satu dosen di fakultas ini”. kataku
“selamat
pagi, juga.”
Baru
saja awal perkenalan tiba-tiba dia langsung diam sejenak dan mengatakan kepada
saya bahwa untuk tidak menulis berita ini dan menyogok saya dengan uang.
“maaf
pak, saya tidak ingin menerima uang dari bapak saya hanya ingin mengetahui
kejadian ini yang sebenarnya”
Tanpa berpikir
panjang aku pun langsung pamit keluar dan pergi menemui ketua umum LPM dan
menceritakan kejadian tersebut. Mengetahui hal tersebut saya merenung bahwa
untuk menjadi jurnalis sesungguhnya harus mempunyai iman yang kuat sebagai
pondasi agar tidak terjadi seperti yang baru saja aku alami. Tak lama kemudian
saya disuruh mewawancarai narasumber lain yang mengetahui hal sama atas
kejadian tersebut. Setelah semua selesai aku pun mulai menulis berita sesuai
apa yang di jawab narasumber. Suasana kampus hari ini tidak begitu ramai
mungkin menjelang ujian akhir semester juga jadi mahasiswa yang kuliah tidak
terlalu banyak.
Tidak
terasa panasnya sinar matahari hari ini menembus kulitku, aku pun berjalan
lebih cepat agar sampai ke kos. Perutku berbunyi tanda mulai lapar kebetulan
masakan pagi tadi masih ada jadi tak perlu aku buat lagi. Adzan mulai di kumandangkan dan aku pun siap
untuk menunaikan kewajibanku lagi. Selesai menunaikan kewajiban aku pun
istrahat siang melepas lelah saat ke kampus namun, hari ini saya tidak bisa
tidur memikirkan kejadian saat wawancara narasumber pertama tadi pagi. Ku coba
memejamkan mata namun tak bisa seakan ada yang menahannya. Mungkin itu adalah
ujian seorang jurnalis dalam menjalankan tugasnya. Karena Kejujuran itu harus
ditegakkan oleh siapapun, kapan, dan dimanapun.
Hidup
jurnalis !!!
Hidup
lembaga pers mahasiswa Indonesia !!!