Rabu, 11 Januari 2017

Cerpenku



Sang   Jurnalis   Sesungguhnya
fgfh

“Kejujuran Jatungnya Amanah

“Pilihlah kejujuran, sekalipun kalian menyaksikan di situ ada kecelakaan. Karena sesungguhnya di dalam kejujuran itu ada keselamatan” (HR. Ibnu Dunya).

T
erik siang ramah menyentuh kulitku. Debu-debu jalanan terbang di antara lalu lalang kendaraan. Angin bergerak tak berarah. Kebisingan jalan membuat kepalaku sedikit pusing. Aku berjalan di bawah sinar sang surya dengan langkah pelan seusai berkumpul dengan teman-teman organisasi eksternal kampus. Bibir mulai bergetar, seperti sedang berbicara dengan bayanganku.
Letak kampusku memang tidak begitu jauh dari kosku sehingga aku bisa berjalan kaki. Langkahku terhenti ketika sebuah mobil dinas berhenti di depan kosku. Aku terdiam dan melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Seorang bapak berkumis tipis dengan rambut lebat serta rapi, mengenakan pakaian dinas berdasi, memandang ke arahku sambil tersenyum. Aku pun melangkah menghampirinya. Dia adalah seorang kepala instansi di salah satu kantor yang ada di kota Mataram. Pada saat itu dia tidak tahu jalan menuju ke salah satu fakultas yang ada di kampusku dan aku pun menunjukkan arah menuju tempat tersebut.
Malam semakin sunyi, ku coba untuk membaringkan tubuh melepas lelah sambil menatap langit-langit kos dan tak lupa aku memadamkan benda temuan Thomas Alva Edison yang ada di kamarku. Gelap. Setelah itu, aku kembali berbaring sambil membaca doa. Tak lama kemudian, ku pejamkan mata untuk bermimpi indah. Aku pun tenggelam sepenuhnya dari kesadaran, menanti fajar menyingsing membawa kehidupan yang lebih baik

* * *
Gema adzan subuh mulai berkumandang, aku pun bangun dan bersiap-siap untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Setelah menunaikan kewajiban, aku pun mulai membuat makanan untuk sarapan pagi agar tetap kuat dan konsen dalam segala aktivitas. Karena warna langit hari ini tampak cerah, aku menyempatkan diri untuk pergi ke kampus. Tanpa sengaja dalam perjalan menuju kampus, aku bertemu dengan pimpinan umum LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) karena kebetulan aku ikut dalam organisasi LPM tersebut. Kami sempat mengobrol mengenai kabar namun, dalam obrolan singkat tersebut dia menyinggung mengenai pers di kampus oleh karenanya dia menugaskan aku untuk mencari suatu masalah yang ada di kampus untuk dijadikan sebuah berita. Pada hari itu pun aku langsung pergi menemui salah satu narasumber yang ada di salah satu fakultas karena kemarin sempat aku tahu bahwa ada kejadian menyimpang oleh salah satu dosen yang di fakultas tersebut.
“selamat pagi, pak. Sebelumnya saya adalah lembaga pers kampus pada kesempatan ini saya ingin mewawancarai bapak mengenai kejadian menyimpang yang di lakukan salah satu dosen di fakultas ini”. kataku
“selamat pagi, juga.”
Baru saja awal perkenalan tiba-tiba dia langsung diam sejenak dan mengatakan kepada saya bahwa untuk tidak menulis berita ini dan menyogok saya dengan uang.
“maaf pak, saya tidak ingin menerima uang dari bapak saya hanya ingin mengetahui kejadian ini yang sebenarnya”
Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pamit keluar dan pergi menemui ketua umum LPM dan menceritakan kejadian tersebut. Mengetahui hal tersebut saya merenung bahwa untuk menjadi jurnalis sesungguhnya harus mempunyai iman yang kuat sebagai pondasi agar tidak terjadi seperti yang baru saja aku alami. Tak lama kemudian saya disuruh mewawancarai narasumber lain yang mengetahui hal sama atas kejadian tersebut. Setelah semua selesai aku pun mulai menulis berita sesuai apa yang di jawab narasumber. Suasana kampus hari ini tidak begitu ramai mungkin menjelang ujian akhir semester juga jadi mahasiswa yang kuliah tidak terlalu banyak.
Tidak terasa panasnya sinar matahari hari ini menembus kulitku, aku pun berjalan lebih cepat agar sampai ke kos. Perutku berbunyi tanda mulai lapar kebetulan masakan pagi tadi masih ada jadi tak perlu aku buat lagi.  Adzan mulai di kumandangkan dan aku pun siap untuk menunaikan kewajibanku lagi. Selesai menunaikan kewajiban aku pun istrahat siang melepas lelah saat ke kampus namun, hari ini saya tidak bisa tidur memikirkan kejadian saat wawancara narasumber pertama tadi pagi. Ku coba memejamkan mata namun tak bisa seakan ada yang menahannya. Mungkin itu adalah ujian seorang jurnalis dalam menjalankan tugasnya. Karena Kejujuran itu harus ditegakkan oleh siapapun, kapan, dan dimanapun.
Hidup jurnalis !!!
Hidup lembaga pers mahasiswa Indonesia !!!